Kecerdasan Finansial tampaknya tidak lagi bersifat opsional bagi kita generasi millenial, namun sudah menjadi kewajiban dan kebutuhan. Mengapa?

Sebelum masuk ke inti persoalan mengenai kecerdasan finansial generasi millenial, ada baiknya kita mengetahui siapa sebenarnya yang disebut gen-Y atau bahasa kerennya generasi Millenials.

 

kecerdasan finansial generasi millenial

source: google

 

Memang ada sedikit perdebatan siapa saja sebenarnya yang layak disebut generasi millenial. Saya sendiri sepakat bahwa generasi millenial adalah generasi yang lahir dalam range waktu 1980-1995. Itu artinya dalam range usia 23-38 tahun saat ini. Jika Anda berada dalam range usia tersebut, artikel ini untuk Anda… 🙂

Generasi millenials cukup unik karena merasakan disrupsi dari era industri ke era informasi.

Mereka pernah merasakan perubahan zaman dari mulai antri di warnet hingga memiliki internet sendiri di genggaman mereka saat ini melalui handphone. Dari yang menjadi penikmat Doraemon hingga menjadi fanbase Ayu Ting Ting.

Dari sisi finansial, perilaku yang dilakukan oleh ayah kakek kita tampaknya pun harus mulai berevolusi. Menabung pangkal kaya menjadi slogan yang agak tidak relevan dengan pertumbuhan teknologi finansial era informasi.

Saat kita berjalan, zaman sudah berlari jauh didepan kita.

Tanpa dibekali dengan kecerdasan finansial yang mumpuni, kita generasi millenials, hanya akan menjadi penonton perkembangan zaman.

Setidaknya ada 3 hal utama menurut saya mengapa generasi millenials wajib memiliki kecerdasan finansial. Kalau menurut Anda ada yang kurang, isi di kolom komentar ya hehe….

 

1. BONUS DEMOGRAFI INDONESIA

Dalam bukunya, Rich Dad’s Propechy, Robert T. Kyosaki memprediksi akan terjadinya gejolak ekonomi di Amerika Serikat pada tahun 2018-2020.

Hal ini terjadi karena generasi Baby Boomers disana akan memulai masa pensiunnya dalam waktu tersebut. Negara akan terbebani dengan dana pensiun generasi ini. Lalu darimana dana pensiun didapat? Yep, dari pajak para generasi Millenials yang masuk di usia produktifnya.

Hal ini berbeda dengan kita generasi millenials Indonesia. Tahun 2020, diproyeksikan akan ada 180 juta penduduk yang masuk usia produktifnya dengan hanya 60 juta penduduk di usia pensiun.

bonus demografi indonesia

source: google

 

Angka ketergantungan masyarakat Indonesia pada tahun 2028 yaitu lebih dari 2 orang bekerja menanggung satu orang usia tidak produktif.

Gini deh, berapa jumlah anak di keluarga Anda sekarang?Rata-rata penduduk Indonesia memiliki 3 hingga 4 anak yang di tahun 2020an akan masuk usia produktifnya.

Yang artinya, anak-anak tersebut akan bertanggung jawab kepada orang tua yang sudah tidak produktif lagi. Yang artinya lagi, diproyeksikan akan ada percepatan pertumbuhan ekonomi di negara kita karena jumlah penduduk produktif lebih banyak dibanding penduduk usia pensiun.

Jika tidak ngeh dengan kondisi ini, kita hanya akan menjadi komentator nyinyir semacam tipikal netizen. Atau menjadi generasi konsumtif yang lebih besar gaya daripada isi rekening.

 

bonus demografi

source: google

 

Bonus demografi ini pernah terjadi di negara-negara tetangga kita seperti Jepang (1950), Korea (1970) dan Tiongkok (1990). Saat itu terjadi, generasi-generasi muda mereka mampu memanfaatkaannya dengan baik.

Teknologi di tangan mereka, bahkan produk-produk teknologi yang hari ini kita gunakan pun rata-rata hasil pertumbuhan ekonomi 3 negara ini.

Jadi nih, saat negara-negara penguasa ekonomi dunia saat ini generasi mudanya sudah akan masuk usia pensiun, kita negara Indonesia justru sebaliknya. Generasi muda Indonesia akan masuk usia produktifnya.

Namun, hal ini akan menjadi keniscayaan jika kita sebagai generasi penerus tidak memiliki kecerdasan finansial lebih dari yang dimiliki ayah-ayah kita.

 

2. PEOPLE DEPEND ON YOU GUYS

 

kecerdasan finansial

source: google

 

Apakah Kita masih jomblo dan tidak mempunyai anak ataupun saat ini sudah berkeluarga, Kita masih mempunyai orang-orang terdekat yang secara finansial bergantung pada Kita. Jika saat ini belum, tinggal tunggu waktunya.

Coba ingat-ingat keluarga terdekat yang kita sayangi, mereka adalah orang-orang yang berharap kepada kita. Mungkin mereka tidak minta dari sisi keuangan, tapi toh pada akhirnya kita lah yang mempunyai kewajiban membalas segala yang sudah diberikan kepada kita.

Generasi millenials adalah generasi yang banyak memiliki impian, goal ataupun tujuan hidup. Entah kita mengubur impian tersebut atau saat ini Anda adalah salah satu yang sedang mengejar impian Anda. Bukan berarti kita menelantarkan tanggung jawab kepada orang-orang sekitar.

Selain orang-orang terdekat, kita pun memiliki beban sosial terhadap masyarakat sekitar. Tetangga terdekat, pengemis yang hampir setiap hari kita temui maupun orang-orang jauh yang terkena bencana alam dan butuh uluran tangan kita.

 

cerdas finansial generasi millenial

3. DISRUPSI FINANSIAL

Financial Technology (fintech) di Indonesia mulai menjamur. Dulu, jika kita mencari pinjaman uang ke lembaga keuangan, proses dan waktunya cukup panjang hingga uang pinjaman sampai ditangan kita. Sekarang Anda cukup download aplikasi dari AppStore untuk mengajukan pinjaman dengan proses yang sangat mudah dan cepat.

Aplikasi-aplikasi e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak dan semacamnya sering kali membuat kita membeli barang yang tidak butuh kita beli karena kemudahan cara bertransaksi dari aplikasi tersebut.

Pinjaman dan konsumsi adalah 2 hal yang harus dibatasi dalam teori kecerdasan finansial.

Berhutang tidak masalah selama hutang tersebut digunakan untuk hal-hal yang produktif. Berhutang untuk membeli barang-barang konsumtif hanya akan memperburuk kondisi keuangan Anda. Anda akan bekerja sehari-hari hanya untuk membayar cicilan hutang. Bekerja untuk survive, bukan bekerja untuk membangun aset.

disrupsi finansial

Buat era disrupsi ini menjadi kesempatan kita untuk melompat lebih jauh dari sisi finansial. Manfaatkan gelombang-gelombang yang ada sebagai pijakan kita dan jangan sampai sebaliknya, malah tertelan gelombang disrupsi tersebut.

Apapun profesi kita, sebagai generasi millenials, kecerdasan finansial wajib kita kuasai sejak dini untuk memanfaatkan gelombang disrupsi finansial ini.

 

Lalu Bagaimana Sebenarnya Kecerdasan Finansial Itu?

Pak Tung Desem Waringin dalam acara I’m Possible di salah satu acara TV swasta cukup ringkas menjelaskan bagaimana sebenarnya kecerdasan finansial dalam urusan keuangans sehari hari.

Memang, seperti yang dikatakan beliau, entah kenapa pendidikan uang lebih tabu daripada pendidikan keuangan 🙁

Dalam video tersebut, Pak Tung menjelaskan dan merinci mengenai 2 Cashflow Quadrant yang di kenalkan Robert T. Kyosaki dalam bukunya The Cashflow Quadrant.

cashflow quadrant

Quadrant yang pertama adalah quadrant kelas profesi seseorang. E adalah employee (karyawan), S self employee (profesional seperti dokter, pengacara etc), B business owner (pemilik sistem bisnis yang dapat bekerja dengan sendiri) dan I investor (seperti Warren Buffet dan Lo Keng Hong).

Untuk memilih salah satu kuadran profesi tersebut tidak hanya bicara mengenai ‘mau yang mana’. Semua kuadran memiliki mindset dan pola pikir masing-masing mengenai uang dan kekayaan. Jadi, bukan hanya soal profesi, namun cara memandang uang.

Jika Anda sekarang adalah karyawan dan ingin berbisnis, yang harus Anda lakukan bukan hanya mengubah apa yang Anda lakukan, namun secara komitmen penuh harus merubah sudut pandang tentang uang.

 

cerdas finansial cashflow quadrant

Kuadran kedua menjelaskan tentang bagaimana pola aliran uang untuk rich person dan middle class. Jadi, ‘rich person’ dan ‘middle class person’ dijelaskan bukan hanya dari berapa banyak uang yang dihasilkan namun bagaimana uang tersebut dimanfaatkan.

Middle class person menghabiskan uangnya hanya untuk membayar cicilan, biaya bulanan dan segala hal yang sifatnya konsumtif. Sementara rich person biasanya mereka akan mengurangi cicilan dan kebutuhan yang sifatnya konsumtif untuk membangun aset.

Lalu, dimana posisi Anda saat ini?

 

baca juga: 3 instumen investasi untuk millenials

 

Membangun aset yang benar-benar produktif memang bukan perkara mudah, namun sangat mungkin dikerjakan. Serta bukan dalam waktu sehari dua hari, mungkin hitungan tahun namun mau tidak mau harus dikerjakan saat ini juga. Inilah kecerdasan finansial sesungguhnya.

cerdas finansial warrent buffet

Disiplin mengenai keuangan pribadi Anda. Save your money it will save you later. Butuh waktu untuk sebagian dari kita, namun jadikan ini prioritas dalam perubahan pribadi kita, karena 3 alasan diatas menurut saya sudah cukup untuk mewajibkan diri kita untuk melatih kecerdasan finansial.

Mulai bangun aset Anda, bangun finansial Anda. Salah satu alasan saya menjalankan bisnis asuransi adalah, selain diajarkan untuk membangun aset secara finansial dengan proteksi dan investasi, disini juga diajarkan bagaimana membangun aset yang dapat membantu saya mencapai impian.

 

baca juga: 5 Aplikasi Keuangan Pribadi Gratis

 

Ingin tahu bagaimana bisnis ini bekerja?Yuk sharing gratis with your friendly Allianz Agent 🙂

 

Al Assy Arry
0857-1923-9466
alari.allianz@gmail.com

Share artikel ini jika menurut Anda Bermanfaat 🙂

Subscribe Untuk Artikel Bermanfaat Berikutnya

Subscribe Untuk Artikel Bermanfaat Berikutnya

Bergabung mailing list kami untuk mendapatkan artikel bermanfaat bagi Anda.

Terima Kasih Karena Telah Memberikan Kepercayaan Kepada Kami