Asuransi Syariah merupakan salah satu produk jasa keuangan yang baru hadir jauh setelah masa Rasulullah SAW dan memiliki berbagai sudut pandang dari ulama kita. Sebagai negara yang 80% penduduknya muslim, status kesyariahan atau halalnya sutau produk menjadi penting bagi penjual barang dan jasa khususnya jasa keuangan.

Pengertian asuransi syariah menurut MUI sendiri adalah asuransi berdasarkan prinsip syariah dengan usaha tolong-menolong (ta’awuni) dan saling melindungi (takafuli) diantara para Peserta melalui pembentukan kumpulan dana (Dana Tabarru’) yang dikelola sesuai prinsip syariah untuk menghadapi risiko tertentu.

Lalu mengapa sebagian masyarakat masih meragukan “kesyariahan” dari produk-produk Asuransi Syariah yang saat ini sangat berkembang di Indonesia?

Untuk lebih jauh memahaminya, ada 3 hal yang harus Anda ketahui mengenai produk keuangan syariah ini:

 

1. Sejarah Asuransi Jiwa Syariah.

1979 – Pertama kali dikenalkan di Sudan oleh perusahaan Sudanese Islamic Insurance. Pada tahun ini juga sebuah perusahaan asuransi memperkenalkan asuransi syariah di wilayah Uni Emirat Arab dan wilayah arab sekitarnya.

1981 – Dar Al-Maal Al-Islami, sebuah perusahaan jiwa di Swiss memperkenalkan asuransi syariah di Jenewa. Diikuti 1983 penerbitan asuransi syariah di Eropa oleh Islamic Takafol Company (ITC) tepatnya di Luksemburg.

1983 – Kepulauan Bahamas menjadi pangsa pasar asuransi syariah oleh perusahaan asuransi syariah Islamic Takafol dan Re-Takafol Company. Di tahun yang sama, Syarikat Al-Takafol Al-Islamiah Bahrain memulai usaha asuransi syariah di Bahrain.

 

asuransi syariah sejarah

sejarah asuransi syariah di dunia

 

1985 – Asuransi jiwa syariah pertama kali masuk Asia di negara Malaysia oleh perusahaan asuransi jiwa bernama Takaful Malaysia.

1993 – PT. Asuransi Takaful Keluarga (Asuransi Jiwa) dan Asuransi Takaful Umum pertama kali mempelopori industri asuransi syariah di Indonesia. Kedua perusahaan ini merupakan anak perusahaan PT Sarikat Takaful Indonesia dimana pendirinya diprakarsia oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) melalu Yayasan Abadi Bangsa bersama Bank Muamalat dan perusahaan Asuransi Tugu Mandiri

Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, bisa dibilang tertinggal jauh dalam hal asuransi syariah. Hal ini disebabkan kurangnya literasi mengenai pentingnya proteksi finansial untuk memperkecil dampak risiko di masa yang akan datang.

Walaupun begitu, sejak awal dikenalkannya asuransi syariah, perusahaan-perusahaan asuransi yang mengeluarkan produk asuransi syariah kini sudah mulai menjamur. Dengan dikeluarkannya fatwa DSN MUI di 2001 yang menghalalkan asuransi syariah, seharusnya masyarakat sudah tidak perlu kawatir lagi mengenai kehalalan asuransi jiwa syariah.

Source:http://sebi-shariainsurance.blogspot.com/2013/02/sejarah-asuransi-syariah_14.html

 

2. Fatwa Ulama Mengenai Asuransi
Asuransi dari sisi muammalat-nya dibagi menjadi dua: Asuransi Konvesional dan Asuransi Jiwa Syariah. walaupun sama-sama asuransi namun kedua bentuk asuransi ini sangat berbeda dari sisi akad, pengelolaan dana dan hukum.Untuk asuransi konvensional sendiri, ada perbedaan pendapat diantara ulama terkait hukum halal-haramnya.

Diantara ulama-ulama yang menghalalkan asuransi konvensional yaitu:

 

Syekh Abdur Rahman Isa dan Prof. Dr. Muhammad al-Bahi , guru besar Universitas Al-Azhar,

Prof. Dr. Muhammad Yusuf
, guru besar universitas Kairo,

Syekh Abdul Wahab Khallaf
, guru besar hukum Islam Universitas Kairo,

Bahjah Hilmi
, penasihat pengadilan tinggi Mesir,

Syekh Muhammad Dasuki
,

Dr. Muhammad Najatullah Shiddiqi
, dosen Universitas King Abdul Aziz,

Syekh Muhammad Ahmad
, pakar ekonomi dari Pakistan,

Syekh Muhammad al-Madhani
, dan Prof. Dr. Musthafa Ahmad al–Zarqa, guru besar Universitas Syiria.

 

Para ulama di atas umumnya beranggapan bahwa asuransi adalah kreasi praktik baru, yang sebelumnya tidak ditemukan dengan tujuan untuk saling tolong menolong. Asuransi merupakan bentuk perkongsian (koperasi) yang dibenarkan dalam Islam, selama tidak mempraktikkan riba.

Sementara ulama-ulama yang mengharamkan asuransi konvensional diantaranya:

 

Ibnu ‘Abidin (1784-1836), dari kalangan Hanafiyah, dalam kitabnya Hâsyiyah Ibnu ‘Abidin (Hâsyiyat Rad al-Muhtâr ‘ala al-Dâr al-Mukhtâr Syarh Tanwîr al-Abshâr).

Syekh Muhammad Bakhit alMuthi`i (1854-1935), Mufti Mesir.

Muhammad Yusuf Qaradhawi
, Syekh Abu Zahrah, Dr. Muahammad Muslehuddin, Prof. Dr. Wahbahaz-Zuhaili, Dr. Husain Hamid, mengharamkan asuransi karena adanya praktik riba, gharar, dan perjudian. Begitu juga dengan ulama Indonesia seperti Prof. Dr. KH. Ali Yafie, mengharamkannya karena tidak sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

 

Hingga akhirnya Perhimpunan Ulama Fikih (majma’ al-fiqh al-Islâmy), pada kongresnya tanggal 10 Sya’ban tahun 1398 H telah bersepakat mengharamkan asuransi konvensional.

Untuk asuransi syariah para Ulama dan umat Islam sepakat atas kehalalannya. Pendapat ini didasarkan atas kesepakatan Muktamar Ulama Muslim Ke-II pada tahun 1960, Muktamar Ulama Muslim Ke-VII tahun 1392 H, dan Pertemuan Ulama Fikih tahun 1938 H.

Kehalalan asuransi didasarkan pada pertimbangan praktiknya menjauhkan dari sistem riba, gharar, jahalah, dan qimar. Asuransi syariah menggunakan sistem persekutuan dan pertolongan (syirkah wa ta’awuniyah). Praktik ini dibenarkan menurut agama, bahkan didorong untuk saling menolong dalam takwa dan kebaikan.

 

asuransi syariah pendapat ulama

 

Hal ini dipertegas oleh Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia yang telah mengeluarkan fatwa tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah pada tahun 2001. Dari sini, semua perusahaan jasa keuangan syariah diawasi langsung oleh DSN-MUI melalui Dewan Pengawas Syariah (DPS) agar berjalan sesuai dengan koridor syariat yang telah tertuang dalam fatwa.

 

Source: https://www.researchgate.net/profile/Muhammad_Maksum/publication/307720111_PERTUMBUHAN_ASURANSI_SYARIAH_DI_DUNIA_DAN_INDONESIA/links/59dcc41f458515e9ab4d979f/PERTUMBUHAN-ASURANSI-SYARIAH-DI-DUNIA-DAN-INDONESIA.pdf

 

3. Akad dalam asuransi syariah

Asuransi Syariah (Ta’min, Takaful atau Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah (Fatwa DSN No.21/DSN-MUI/X/2001)

Akad adalah perjanjian tertulis yang memuat kesepakatan tertentu beserta hak dan kewajiban para pihak sesuai prinsip syari’ah (PMK No.18/PMK.10/2010)

Akad yang sesuai dengan syariah adalah akad yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat. (Fatwa DSN No.21/DSN-MUI/X/2001)

Akad Tabarru’ (Fatwa DSN No.53/DSN-MUI/III/2006)

Akad Tabarru’ pada asuransi adalah akad yang dilakukan dalam bentuk hibah dengan tujuan kebajikan dan tolong­ menolong antar peserta, bukan untuk tujuan komersial.

Dalam akad tabarru’ (hibah), peserta memberikan dana hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta atau peserta lain yang tertimpa musibah. Perusahaan asuransi bertindak sebagai pengelola dana hibah, atas dasar akad wakalah dari para peserta selain pengelolaan investasi.

Kontribusi yang dibayarkan oleh peserta (premi) terdiri dari dana tabarru’ (untuk kepentingan peserta) dan ujrah (fee) untuk kepentingan pengelola (perusahaan asuransi).

Akad Wakalah bil Ujrah (Fatwa DSN No.52/DSN-MUI/III/2006)

Akad Wakalah bil Ujrah boleh dilakukan antara perusahaan asuransi dengan peserta, Akad Wakalah bil Ujrah untuk asuransi, yaitu salah satu bentuk akad Wakalah di mana  peserta memberikan kuasa kepada perusahaan asuransi dengan imbalan pemberian ujrah (fee).

Wakalah bil Ujrah dapat diterapkan pada produk asuransi yang mengandung unsur tabungan (saving) maupun unsur tabarru’ (non-saving).

Dalam akad ini, perusahaan bertindak sebagai wakil (yang mendapat kuasa) untuk mengelola dana, sedangkan Peserta (pemegang polis), dalam produk saving dan tabarru’, bertindak sebagai muwakkil (pemberi kuasa) untuk mengelola dana.

Perusahaan asuransi selaku pemegang amanah wajib menginvestasikan dana yang terkumpul dan investasi wajib dilakukan sesuai dengan syariah, Hasil investasi dari dana tabarru’ menjadi hak kolektif peserta dan dibukukan dalam akun tabarru’.

Dari hasil investasi, perusahaan asuransi dan reasuransi syariah dapat memperoleh bagi hasil berdasarkan akad Mudharabah atau akad Mudharabah Musytarakah, atau memperoleh ujrah (fee) berdasarkan akad Wakalah bil ujrah.

Akad Mudharabah (Fatwa DSN No.21/DSN-MUI/X/2001)

Dalam akad tijarah (mudharabah), perusahaan bertindak sebagai mudharib(pengelola) dan peserta bertindak sebagai shahibul mal (peserta), Peserta memberikan kuasa kepada Pengelola (Perusahaan asuransi) untuk mengelola dana tabarru’ dan/atau dana investasi peserta, sesuai dengan kuasa dan wewenang yang diberikan dengan mendapatkan imbalan berupa bagi hasil (nisbah) yang besarnya telah disepakati bersama.

Akad Mudharabah Musytarakah (Fatwa DSN No.51/DSN-MUI/III/2006)

Akad Mudharabah Musytarakah, yaitu perpaduan dari akad Mudharabah dan akad Musyarakah, Perusahaan asuransi sebagai mudharib menyertakan modal atau dananya  dalam investasi bersama dana peserta, Modal atau dana perusahaan asuransi dan dana peserta diinvestasikan secara bersama-sama dalam portofolio, Perusahaan asuransi sebagai mudharib mengelola investasi dana tersebut.

Hasil investasi dibagi antara perusahaan asuransi (sebagai mudharib) dengan peserta (sebagai shahibul mal) sesuai dengan nisbah yang disepakati  atau dibagi secara proporsional antara perusahaan asuransi (sebagai musytarik) dengan peserta berdasarkan porsi modal atau dana masing-masing.

Source: http://asuransisyariahku.com/akad-asuransi-syariah/

akad asuransi syariah

 

Dari ketiga penjelasan diatas, sebenarnya sudah tidak perlu ada perdebatan mengenai asuransi syariah lagi. Para pendahulu kita sudah sepakat tentang status halal asuransi syariah dari sisi pengertian, sejarah maupun akadnya.

Share artikel ini jika menurut Anda Bermanfaat 🙂

Subscribe Untuk Artikel Bermanfaat Berikutnya

Subscribe Untuk Artikel Bermanfaat Berikutnya

Bergabung mailing list kami untuk mendapatkan artikel bermanfaat bagi Anda.

Terima Kasih Karena Telah Memberikan Kepercayaan Kepada Kami