Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar. Jika Anda membaca artikel ini pun, kemungkinan besar Anda adalah keluarga muslim.

Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa Islam, oleh Rasulullah SAW, hadir untuk melengkapi agama-agama samawi sebelumnya. Yang artinya, Islam sempurna, lengkap dari segala sendi kehidupan termasuk dalam masalah keuangan atau finansial.

Namun nampaknya, perkembangan literasi keuangan syariah masih perlu digenjot ditengah masyarakat kita. Mengapa?

Dalam sebuah seminar keuangan, saya bertanya kepada peserta yang hadir siapa diantara mereka yang memiliki rekening tabungan di bank konvensional. Kemudian sayapun bertanya siapa diantara mereka yang memiliki rekening di tabungan berbasis syariah.

Cukup mengejutkan, pemilik rekening bank berbasis syariah jauh sekali jumlahnya dibandingkan dengan peserta yang memiliki rekening di bank konvensional

market share of Islamic banks

source: OJK

Hal ini tercermin dari data OJK. Bayangkan, negara yang mayoritas penduduknya muslim, market share perbankan syariah hanya 5,57% terhadap perbankan nasional!

Tapi saya yakin, kedepannya keuangan berbasis syariah baik itu pengelolaan corporate maupun pengelolaan keuangan pribadi akan dapat berkembang dan mengalahkan keuangan konvensional berbasis bunga.

Dan hal tersebut setidaknya dimulai dari kita dan keluarga kita. Sebagai seseorang yang memiliki label ‘Muslim’, sudah selayaknya kita dapat mengelola keuangan dengan prinsip Islam atau syariat. Karena hal ini bukan hanya dapat menentramkan diri kita didunia, namun mendapat ridho untuk kita di akhirat kelak.

Lalu, bagaimanakah prinsip-prinsip mengelola finansial secara islami?

Tujuh prinsip utama perencanaan finansial secara Islami diperkenalkan oleh Hijrah Strategic Advisory Group Sdn yang berada di Malaysia.

 

1. Pendapatan

Rasulullah Saw. bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan hanya menerima yang baik-baik saja.” (HR. Muslim).

Islam mengajarkan, sebagai imam keluarga, suami haruslah menafkahi istri dan keluarganya dari sumber yang halal. Yuk, kita sebagai pencari nafkah keluarga cek sama-sama. Apakah sumber penghasilan kita semua berasal dari sumber yang halal.

Bagaimana lembaga keuangan yang kita gunakan?Asuransi yang kita bayar entah perusahaannya maupun produknya?Apakah sudah menjalankan bisnis mereka seusai dengan prinsip-prinsip syariah?

Pendapatan yang akan dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, seperti makan dan minum yang akan dikonsumsi, akan mengalir di dalam darah kita. Jadi usaha apa pun yang Anda lakukan haruslah halal, agar membawa berkah bagi keluarga dan terhindar dari murka Allah.

halal income

source: google

 

2. Pengeluaran

Harta akan ditanyai dua pertanggung jawaban di hari akhir nanti. Darimana datangnya dan untuk apa digunakan. Setelah yakin sumber keuangan kita benar-benar halal. Saatnya kita pintar mengatur pengeluaran.

Catat semua pengeluaran yang kita lakukan sedetail mungkin. Untuk beberapa orang, pada awalnya kegiatan ini memang agak sulit dan butuh kedisiplinan. Paksakan diri Anda untuk melakukannya setidaknya dalam jangka waktu 30 hari.

Dalam ilmu psikologi modern, seseorang yang melakukan sesuatu selama 30 hari berturu-turut maka hal tersebut akan menjadi kebiasaan. Bukankan kita berpuasa selama 30 hari untuk membiasakan hal yang baik?

Mencatat tidak harus dengan buku yang harus dibawa kemana-mana. Manfaatkan Hanphone Anda untuk meng-install aplikasi keuangan pribadi. Catat dari hal yang paling kecil seperti membayar angkot, memberi uang kepada pengamen dan lain sebagainya.

Ingat, kaya tidak dicapai hanya dengan jumlah penghasilan yang kita capai, namun harus disertai disiplin dalam pengeluaran. Islam mengatur ini jauh sebelum ahli-ahli keuangan dan psikologi bermunculan.

 

management of Islamic personal money

source: google

 

Gunakan prinsip 10-20-30-40

10% keluarkan untuk zakat infaq maupun sedekah
20% keluarkan untuk membayar hutang dan cicilan (jika ada)
30% keluarkan untuk investasi maupun proteksi finansial Anda
40% keluarkan untuk kebutuhan sehari-hari

Lah mas, pengeluaran sehari-hari saya saja sudah lebih 50% dari pendapatan

Inilah gunanya kita mencatat semua jenis pengeluaran kita. Evaluasi setiap bulan. Saya haqqul yakin akan ada pengeluaran-pengeluaran yang sebenarnya bisa dipangkas untuk di switch ke porsi yang lainnya.

Sekali lagi, untuk beberapa orang hal ini cukup berat. Karena saat kita berbicara uang, keseringan bukan logika yang berbicara namun emosional.

Saat kita melihat barang-barang diskon, pikiran kita akan mencari pembenaran untuk membeli barang yang entah butuh atau tidak kita pada barang tersebut.

“ini kan diskon 20% berarti saya bisa hemat dong”

No! saat Anda membeli barang diskon 20% itu artinya Anda mengeluarkan uang 80% dan bukan hemat 20%

Islam sangat tidak mengizinkan kita mubazir. Beli sesuatu hanya karena kita butuh bukan karena kita mau.

expenditure discipline

source: google

 

baca juga: http://asuransisyariahku.com/aplikasi-keuangan-pribadi-terbaik/

 

 

3. Perencanaan Jangka Panjang

Pergi Haji. Rukun Islam yang kelima.

Mungkin untuk sebagian orang akan berpikir, “ah haji kan untuk yang mampu, berarti yang gak mampu gak wajib pergi haji”

Namun, buat saya, rukun ini mengajarkan kita untuk memiliki rencana jangka panjang. Rukun dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti: yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan.

Bukankah itu artinya Islam kita belum sah jika kita, sebagai muslim, jika tidak merencanakan untuk berangkat haji?

 

investment for Hajj

source: google

 

Karena itu, untuk mewujudkannya kita harus mempersiapkan sedini mungkin dengan perencanaan dari sisi finansial sebaik-baiknya. Buat saya, inilah arti dari rukun kelima Islam tersebut. Perencanaan jangka panjang baik lahir bathin maupun perencanaan finansial jangka panjang.

Manusia hanya bisa berencana, namun pada akhirnya Allah-lah yang menentukan. Untuk menyiasati kebutuhan yang tak terduga di masa mendatang, perlu adanya komitmen.

(ali-imran: 159) فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

Jika kita sudah ber-‘azam maka bertawakkallah kepada Allah

Rencanakan keuangan jangka panjang Anda sebaik mungkin. Investasi kedalam aset-aset investasi yang halal dan sudah mendapatkan fatwa MUI secara resmi.

Industri keuangan telah berubah, pola pikir ayah kita tentang keuangan harus mulai diubah. Menabung saja tidak akan membantu kita mengalahkan inflasi. Berinvestasilah….

 

saving vs. investment

source: google

 

baca juga: http://asuransisyariahku.com/dana-pensiun/

 

4. Insurance

Ketika kita sudah merencanakan, sudah berusaha keras, sudah banyak berdoa, bukan berarti kita akan terhindar dari risiko hidup.

Dari sudut pandang keuangan, risiko dapat berupa penyakit, penyakit kritis, kecelakaan atau yang terburuk kematian. Jika Anda mengalami ini, tentu saja keuangan keluarga Anda akan terganggu.

Ketika penghasilan berhenti, bukan berarti kita bisa berhenti belanja.

Ketika Anda terkena kanker, akankah Anda mengorbankan dana pendidikan anak-anak untuk membiayai penyembuhan Anda.? Saya sih tidak.

Untuk itulah kita membutuhkan asuransi.

 

insurance function

 

Asuransi kita ambil bukan karena kita tidak yakin dengan ketetapan Allah SWT. Justru agar kita lebih siap saat rezeki berupa cobaan seperti sakit kritis diberikan Allah kepada kita. Ingat, cobaan adalah rezeki yang pahit rasanya.

Asuransi kita ambil bukan berarti kita tidak ikhlas dengan kepastian meninggalnya kita. Asuransi kita ambil karena saat kita meninggal, orang-orang yang kita sayangi harus melanjutkan hidupnya.

Meninggal itu pasti, jadi asuransi seharusnya menjadi sesuatu yang wajib kita miliki. Saat kita merencanakan tabungan haji dan ditengah jalan kita meninggal dunia, akan ada keluarga yang menggantikan kita berangkat haji (badal) dengan uang yang kita tinggalkan.

 

insurance benefits

 

Pertanyaannya, jika Allah ingin Anda ‘kembali’ besok, berapa yang dapat Anda tinggalkan untuk keluarga?

Jadi, asuransi adalah salah satu bentuk ikhtiar kita kepada semua ketetapan Allah berupa risiko saat itu terjadi kepada kita. MUI pun sudah mengeluarkan fatwa halal untuk produk asuransi syariah yang tentunya menjalankan bisnisnya sesuai dengan akad-akad dan prinsip syariat.

asuransi jiwa syariah

 

baca juga: http://asuransisyariahku.com/menciptakan-warisan-dalam-satu-hari/

 

5. Pengelolaan Utang

Anda tidak dilarang berhutang. Tidak ada larangan berhutang dalam Islam. Utang yang diharamkan dalam Islam adalah utang yang mengandung unsur riba, seperti berutang yang berbunga. Dan tentu, hutang yang tidak ada niat untuk dilunasi.

Dewasa ini, banyak pilihan bank syariah yang menawarkan modal  dengan sistem pengelolaan yang merujuk kaidah menurut hukum Islam yang dapat Anda gunakan jasanya.

Anda pun tidak perlu khawatir dengan ke-syariah-an lembaga keuangan ini karena lembaga keuangan bank dan non-bank syariah harus memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) didalamnya. Tugas DPS adalah memastikan lembaga keuangan ini berbisnis sesuai dengan arahan Dewan Fatwa MUI megenai kehalalan bisnisnya.

 

debt

source: google

 

Satu hal yang perlu Anda perhatikan, keuangan pribadi yang sehat adalah jika cicilan hutang Anda tidak lebih dari 20% dari total penghasilan Anda. Ingat, 20% sebisa mungkin tidak lebih dari itu.

Coba cek lagi, list cicilan Anda perbulan saat ini. Apakah sudah lebih dari 20%?

Jika ya, itu artinya harus ada porsi lain yang dikurangi seperti investasi dan dana tabungan masa depan Anda. Atau akan ada biaya-biaya konsumsi harian yang harus Anda hemat.

Saya akan bahas lebih jauh mengenai hutang ini di artikel berikutnya. Perbedaan hutang baik dan hutang jahat. Definisi dan lain sebagainya. So, jangan lupa subscribe untuk mendapatkan update artikel saya.

 

baca juga: http://asuransisyariahku.com/kecerdasan-finansial/

 

6. Investasi

Investasi disini bukan hanya berupa harta. Mengikuti seminar-seminar pengembangan diri, beli buku-buku positif yang dapat meng-upgrade skill Anda pun itu merupakan investasi.

Budget-kan keuangan Anda setidaknya 30% dari pengeluaran Anda untuk investasi.

Investasi uang bisa Anda masukkan kedalam bentuk emas, deposito ataupun saham. Selama produk-produk tersebut terjamin kehalalannya dan sudah mendapat fatwa MUI, maka tidak usah ragu. Dalam mengeluarkan fatwanya, MUI sudah melakukan kajian yang mendalam. Jadi kita percayakan ke ilmuanya kepada ulama-ulama kita disana.

 

Islamic investment

source: google

 

Dari 30%, masukkan pula untuk dana tak terduga seperti asuransi yang sudah saya bahas sebelumnya.

Dana 30% inilah yang akan menjamin masa depan Anda seperti pensiun, rencana haji, kuliah anak-anak Anda dan sebagainya. Jadikan dana masa depan ini sebagai dana mati, jangan gunakan sama sekali kecuali memang untuk peruntukkannya.

Dalam artikel berikutnya saya akan bahas aset-aset kertas yang halal kita investasikan dan sudah mendapat fatwa MUI. Subscribe untuk selalu mendapatkan update artikel dari saya.

 

7. Zakat Sedekah & Infaq

Yang terakhir saya sebutkan namun yang pertama kali harus Anda keluarkan dari seluruh pengeluaran.

Gaji, komisi, fee, keuntungan dagang atau apapun sumber penghasilan Anda, saat sudah ditangan keluarkan segera minimal 10% untuk zakat infaq dan sedekah.

Inilah yang akan membuat rezeki kita bertambah dan berlipat. Return of Investment (ROI) yang dijanjikan sebesar 700%!!

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 261)

 

Bukankah kita termasuk orang yang meyakini ayat Allah tanpa ragu?
Namun mengapa kadang kita ragu dengan janji yang satu ini?
Mengapa sering kita merasa berat untuk mengeluarkan uang untuk pengemis?untuk anak yatim?untuk pengamen?

Banyak sekali cerita-cerita pengusaha yang sukses berawal dari sedekah. Jadi kenapa kita masih ragu untuk mengeluarkan sedekah semaksimal mungkin. Yuk sedekah

 

alms

source: islampos.com

 

Cara mengelola keuangan keluarga dalam islam

Dalam mencari pendapatan, Islam tidak memperkenankan seseorang bekerja dengan menelantarkan hak-hak lain yang perlu dipenuhi. Ada hak istri, hak anak, bahkan ada hak tubuh kita beristirahat.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya untuk dirimu, keluargamu serta badanmu ada hak atasmu yang perlu engkau penuhi, jadi berilah semasing yang memiliki hak itu haknya. ” (HR. Bukhari serta Muslim).

Allah sudah menyatakan kalau bekerja itu sebaiknya sesuai sama batas-batas kekuatan manusia. (QS. Al-Baqarah : 286).

 

Islamic finance

 

Tetapi apabila keperluan begitu banyak atau pasak semakin besar daripada tiang dan diperlukan penghasilan tambahan, komunikasi diantara keluarga harus dijaga. Apakah istri membantu mencari penghasilan atau ada pengeluaran yang harus dipangkas.

Kedua belah pihak, baik suami maupun istri harus sama-sama memahami cara mengelola keuangan keluarga dalam islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Janganlah anda bebani mereka dengan apa-apa yang mereka tidak mampu menanggungnya. Serta jika anda mesti membebani mereka diluar kekuatan, maka bantulah mereka. ” (HR. Ibnu Majah).

Dalam manajemen keuangan keluarga juga tidak bisa dilepaskan dari optimalisasi potensi keluarga termasuk anak-anak untuk hasilkan rezki Allah.

Islam selalu memerhatikan problem perkembangan anak dengan saran supaya anak-anak dilatih mandiri serta berpendapatan mulai sejak umur remaja. Islam melarang orangtua untuk memanjakan anak-anak hingga tumbuh jadi benalu, tidak mandiri serta tergantung pada orang yang lain.

Firman Allah Swt. dimuka (QS. An-Nisa 4 : 6) menyaratkan kalau kita harus mendidik serta membiasakan anak-anak untuk cakap mengurusi, mengelola serta meningkatkan harta.

Sehingga mereka dapat hidup mandiri dan menjadi kepala rumah tangga untuk laki-laki dan administrator keuangan keluarga bagi perempuan, selain anak-anak dilatih untuk bekerja, mengurangi beban dan membantu orang tua.

Kurang lebih seperti itulah prinsip manajemen keuangan keluarga Islam. Jika kita berkomitmen untuk mengimplementasikannya, insya Allah, berkah akan datang sendiri.

Share artikel ini jika menurut Anda Bermanfaat 🙂

Subscribe Untuk Artikel Bermanfaat Berikutnya

Subscribe Untuk Artikel Bermanfaat Berikutnya

Bergabung mailing list kami untuk mendapatkan artikel bermanfaat bagi Anda.

Terima Kasih Karena Telah Memberikan Kepercayaan Kepada Kami