Tahukah Anda, 85% pasien kanker dan keluarga bangkrut.

Studi dampak sosial ekonomi kanker dimulai Januari 2012.

Menyebutkan bahwa 85%  pasien dan keluarga bangkrut karena menanggung biaya obat dan perawatan kanker. Ini adalah indikasi kanker berpotensi membuat keluarga menengah dan rendah semakin miskin.

Demikian   suatu studi dampak social ekonomi yang dilakukan Januari pada tahun 2012.  Biaya hidup semakin meningkat, membuat keluarga harus memberikan prioritas pengeluaran sehingga tidak akan terjadi pengeluaran ekstra.

Dalam prakteknya masih banyak keluarga yang menjadikan asuransi bukan prioritas karena merasa belum menjadi isu penting.

Sebenarnya kebutuhan alokasi asuransi tidak besar yakni sekitar 5-10 % dari penghasilan dan proteksi ini akan mampu proteksi asset anda sebesar 90%.

Memiliki asuransi adalah memberikan kenyamanan untuk keluarga dan anank-anaknya karena dalam hidup ini penuh misteri.

Era hidup modern dan gaya hidup membuat pengaturan keuangan sulit dikontrol sehingga untuk menabung di asuransi masih prioritas terakhir bahkan belum menjadi pilihan.

Memilih menjadi pebisnis asuransi bukan hanya mengejar penghasilan, namun usaha keras dalam mengedukasi masyarakat tentang literasi keuangan. Banyak anggapan bahwa kebangkrutan identik dengan: hilangnya pekerjaan, pencurian, bencana alam, kebakaran dan sebagainya. Tidak salah, namun risiko penyakit kritis lebih berbahaya dibanding kemungkinan yang telah disebutkan

85% pasien kanker dan keluarga bangkrut,  ini merupakan hasil penelitian dari Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan dan Analisa Kebijakan UI.

Pertanyaannya, apakah anda sudah mempersiapkan jika  penyakit kritis menyerang Anda?

Jika belum, Bagaimana kira-kira kondisi orang-orang yang Anda cintai jika Anda terkena penyakit kritis?

85 Persen Pasien Kanker Dan Keluarga Bangkrut

Jakarta, Kompas – Studi awal dari Fase II ASEAN Costs in Oncology menunjukkan, 85 persen pasien dan keluarga bangkrut karena menanggung biaya obat dan perawatan kanker. Ini indikasi kanker berpotensi membuat keluarga ekonomi menengah dan rendah menjadi semakin miskin.

”Jika di keluarga ada yang menderita kanker payudara, biaya perawatan bisa mencapai Rp 200 juta setahun. Maka, orang yang berpenghasilan Rp 10 juta per bulan bisa bangkrut,” kata Prof Hasbullah Thabrany dari Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan dan Analisa Kebijakan, Universitas Indonesia, pada peluncuran Fase II Studi ASEAN Costs in Oncology (Action), Jumat (16/12), di Jakarta.

Action adalah kajian multinasional tentang dampak sosial ekonomi kanker yang dilakukan oleh The George Institute, Sydney, difasilitasi oleh The ASEAN Foundation dan Roche Asia Pasifik. Studi dilakukan di delapan negara ASEAN, yaitu Malaysia, Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia, studi akan dilaksanakan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, pada 2.400 pasien kanker dan keluarga.

Studi dimulai Januari 2012 di 12 rumah sakit, yaitu RS Dharmais, RS Cipto Mangunkusumo, RS Medistra, dan MRCCC (Jakarta); RS dr Hasan Sadikin (Bandung); RS dr Kariadi (Semarang); RS dr Sardjito (Yogyakarta); RS dr Sutomo dan Klinik Onkologi (Surabaya); RS Sanglah (Denpasar); RS dr Wahidin Sudirohusodo (Makassar); serta RS dr Adam Malik (Medan).

Masukan bagi pemerintah

Selama setahun pasien dan keluarga dipantau beban keuangannya, dari sisi perawatan ataupun biaya tidak langsung, seperti transportasi. Selain mengetahui besaran biaya untuk penderita kanker dan keluarganya selama perawatan, hasil studi bisa menjadi bahan pertimbangan pengambilan kebijakan dalam pengendalian kanker. Menurut Hasbullah, penelitian akan selesai tahun 2013, dan diharapkan menjadi masukan bagi kebijakan pemerintah terkait penerapan Sistem Jaminan Sosial Nasional tahun 2014.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mendukung studi ini. Ia memaparkan, kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian global dengan angka 13 persen (7,4 juta) dari semua kematian per tahun. Sebanyak 70 persen kematian akibat kanker terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Menurut Riset Kesehatan Dasar 2007, prevalensi tumor 4,3 per 1.000 penduduk di Indonesia. Kanker penyebab kematian nomor tujuh setelah stroke, tuberkulosis, hipertensi, cedera, perinatal, dan diabetes. Menurut sistem informasi RS, jenis kanker tertinggi di RS seluruh Indonesia pada pasien rawat inap tahun 2008 adalah kanker payudara (18,4 persen), disusul kanker leher rahim (10,3 persen).

Di Indonesia, 70 persen kasus kanker ditemukan pada stadium lanjut. Akibatnya, angka bertahan hidup rendah dan menyerap anggaran besar. Data PT Askes, kanker menempati urutan keempat penyerapan biaya rawat jalan dan tindak lanjut pada 2010. (ICH)

Ayo, segera persiapkan asuransi sakit kritis mulai dari sekarang, jangan biarkan diri anda hanya menjadi penerima informasi saja dan jika anda tergerak untuk membantu keluarga Indonesia memiliki asuransi sakit kritis,

Tidak ada keluarga yang bangkrut karena menabung di Asuransi, namanya menabung selain ada proteksi juga ada investasi. Tetapi banyak keluarga yang tidak memiliki asuransi bangkrut.

penyakit kritis jual rumah

Klaim 6

Mari sisihkan penghasilan anda untuk menabung di Tapro Allianz baik syariah maupun non syariah.

Untuk Konsutasi gratis silahkan hubungi saya:

 

Al Assy Arry

Bussiness Executive Allianz
HP/WA: 0857-1923-9466
Email: alari.allianz@gmail.com

Atau

get in touch

bintaro jakarta selatan
0857-1923-9466
alari.allianz@gmail.com

Share artikel ini jika menurut Anda Bermanfaat 🙂

Subscribe Untuk Artikel Bermanfaat Berikutnya

Subscribe Untuk Artikel Bermanfaat Berikutnya

Bergabung mailing list kami untuk mendapatkan artikel bermanfaat bagi Anda.

Terima Kasih Karena Telah Memberikan Kepercayaan Kepada Kami